Minggu, 29 Maret 2020

WORK FROM HEART, LEARN FROM HEART,

   


Guru BK Belajar SESI 1-2 

Tema Learning From Heart dan Work From Heart dilemparkan ke forum, dengan Narasumber perdana Nurjanni Astiyanti, Lidya Ardiyan sebagai moderator dan Host Nurmalahayati. Alhamdulillah cukup ramai, partisipan berebut masuk room, dan beberapa terlempar keluar dikarenakan hilangnya sinyal. Antusiasme seluruh partisipan terlihat nyata, mulai dari guru BK SMP, SMA, SMK, MTs dan MA hingga Widyaiswara bergabung dalam diskusi. Walau Room hanya menampung sekitar delapan puluhan peserta semuanya turut menyambut baik dan ide-ide tersampaikan disana. Ternyata idak hanya peserta didik yang bingung menghadapi Learning From Home, kesiapan fasilitas dan penguasaan teknologi yang tidak merata menjadi kendala utama. Dikarenakan kesalahan teknis sinyal dan jaringan, narasumber dan host tidak bisa bergabung kembali ke room diskusi. Sehingga diskusi dilanjutkan 2 hari kemudian di sesi 2 dengan melanjutkan tema yang sama. Nurjanni menyampaikan tiga pokok bahasan utama mulai dari alasan munculnya belajar di rumah, berkembangnya teori dan pengalaman belajar, dan munculnya peran baru dari Guru BK. Pertama bahasan belajar di rumah, pandemic covid-19 menyebabkan banyak negara melakukan isolasi dalam skala besar, menghasilkan gerakan belajar di rumah, dengaan mengandalkan guru sebagai fasilitator daring dan orang tua sebagai pengawas kegiatan. Bukannya mengentaskan masalah, justru hal ini menimbulkan masalah baru, yang hadir melalui 3 keluhan utama, berlaku untuk semua kalangan, ketidaksiapan para guru melaksanakan pembelajaran daring, kepuasan belajar dan mengajar langsung yang tidak terpenuhi.

Keluhan pertama, berlakunya untuk semua kalangan, anak dari keluarga sosial ekonomi tinggi dan rendah, sekolah negeri sampai swasta elit, semuanya tanpa terkecuali. Padahal ada kalangan tertentu khususnya menengah kebawah yang bahkan sama sekali tidak memiliki fasilitas tersebut, bahkan mungkin tidak pernah menyentuh gadget sama sekali. Keadaan ini memastikan tidak semua kalangan bisa melaksanakan pembelajaran daring dirumah ini. Keluhan kedua ketidaksiapan guru melaksanakan pembelajaran daring, keterampilan guru yang beragam dan tidak merata di seluruh pelosok negeri, mirip dengan keadaan peserta didiknya. Belum lagi setiap orang menghadapi kepanikan dan kecemasan menghadapi pandemic ini. Keluhan ketiga, sebenarnya kombinasi dari keluhan pertama dan kedua, ketidak siapan peserta didik dan guru menyebabkan efektivitas pembelajaran online dipertanyakan. Terbiasa dan menguasai pembelajaran tatap muka dan kenyamanan pembelajaran tatap muka yang mempunyai nilai tersendiri dihati guru maupun peserta didik. Kombinasi pengalaman pengetahuan dan motivasi yang biasanya mengalir saat ini tersendat karena kesiapan, baik kesiapan secara mental psikologis maupun secara fasilitas.

Kelas-kelas online memang sudah tumbuh pesat di decade terakhir, menjadi solusi alternative pendidikan bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan jarak dan waktu. Kesalahan dalam pemahaman konsep belajar daring juga berkembang. Pertama slow cooker, dimana guru/instruktur mempersiapkan banyak hal sebelum pembelajaran, kemudian hanya sebagai pemandu instruksi, dan peserta didik berjuang memahami dan menguasai materi dan mengerjakan semua tugas yang diberikan. Faktanya seharusnya belajar daring kedua pihak guru dan peserta didik merancang dan mengembangkan kelas dengan aktif. Kedua murid online malas, karena keterlibatan minimal dalam kelas, cendrung sebagai silent observer, dan kondisi belajar yang tidak menarik, guru sebagai fasilitator juga tidak menguasai sepenuhnya, kendala teknik seperti penguasaan gadget, aplikasi dan kekuatan jaringan, dan pekerjaan sampingan para peserta didik. Faktanya pembelaran daring menuntut keterampilan yang lebih, kemampuan mengelola waktu, memotivasi diri dan tentunya harus memiliki self regulation yang baik. Kemampuan guru juga harus maksimal agar bisa mendukung peserta didik belajar mendalami materi dan mentransformasi pengalaman. Ketiga belajar online tidak bermanfaat, survey Educause menunjukkan bahwa responden menilai pembelajaran daring tidak cukup efektif, dan memuaskan. Faktanya, banyak pembelajaran daring yang berkualitas jika didukung semua fasilitas dan guru yang juga berkualitas, mendorong peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan secara dinamis, sehingga dapat efektif dan memuaskan.

Prinsip yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran daring antara lain harus selalu stand by di kelas, memiliki teaching persona yang unik yang terlihat dalam konten tertulis, mampu berempati dengan beragam keadaan peserta didik, mampu menyajikan bahan pembelajaran  yang memantik ketertarikan secara visual, menyampaikan harapannya pada peserta didik, menyediakan semua fasilitas untuk mendorong pembelajaran, menjadikan kelas sebagai tempat yang nyaman dan mendukung introspeksi diri dan umpan balik, dan komitmen guru untuk terus melakukan pengembangan berkelanjutan.

Sekolah jaman sekarang yang harus membalik paradigm belajar, dengan flipped classroom. Peserta didik memperoleh first exposure materi baru diluar kelas, dengan terlebih dahulu membaca dan menyimak bahan ajar berupa buku atau video materi, kegiatan ini memancing anak sudah berbekal keterampilan berpikir C1 dan C2. Kemudian berlanjut dengan tatap muka di kelas, disaat ini peserta didik mengerjakan tugas yang lebih berat, mengasimilasi pengetahuannya melalui problem solving, diskusi bahkan berdebat dengan peserta didik lain, ini mengembangkan keterampilan berpikir C3 hingga C6. Dukungan teman sebaya dan guru selama proses dikelas harus bisa mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi secara kolaboratif dan kooperatif. Dengan demikian elemen kunci dalam flipped classroom ini adalah peserta didik harus melakukan first exposure sebelum dia masuk ke dalam kelas, kemudian didalam kelas kemampuan berfikir tingkat tinggi yang dominan berlangsung dan guru harus segera memberi feedback sebagai insentif/reward bagi peserta didik.

Bagian akhir adalah tentang peranan guru BK saat ini, yaitu sebagai bagian support system disekolah. Tujuan layanan BK disekolah tidak lepas dari pemenuhan kebutuhan fisiologis dasar peserta didik, kemudian mendorong peserta didik untuk memahami diri dan membangun asosiasi dengan sebaya, menjaga keseimbangan kekuasaan dalam setting sekolah, mendorong peserta didik dalam pencapaian kesuksesan dan menyediakan kesempatan untuk dapat meraih independensi diri (Heyden, 2011). Dan dalam proses pembelajaran daring BK  juga menghadapi beberapa fakta lapangan. Dalam hal efektivitas layanan BK daring faktanya adalah, pertama hasil riset menunjukkan efektivitas konseling daring sama dengan konseling di ruangan BK (tatap muka langsung), kedua konseli dalam hal ini peserta didik akan menghubungi konselor atau Guru BK sesuai kebutuhan mereka. Dalam hal relasi terapeutik, fakta pertama layanan BK daring hanya cocok untuk orang dan topik tertentu, tidak bisa digeneralisir untuk semua, dan tetap berlakunya law of attraction. Dalam hal privasi konseli, fakta menunjukkan bahwa profesionalisme berlaku penuh sebagaimana saat tatap muka, dan konseli sebagian besar merasa lebih terlindungi dan tidak terlalu dipantau. Dalam hal pilihan layanan dan konselor juga da dua fata menarik dimana konseli dapat memperkaya diri dengan berbagailayanan yang disajikan konselor atau guru BK jika  mau membaca panduan yang ada, dan keterampilan konselor juga bisa semakin dikembangkan.

Penjabaran berbagai fakta tersebut menunjukkan peran guru BK dalam pembelajaran daring antara lain dalam refleksi dan evaluasi bagi peserta didik dan orang tua sebagai pengguna jasa, menuntut keterlibatan aktif orang tua guru BK dan peserta didik dalam pendampingan, pemberian motivasi dan konsultasi; dan sebagai contect constructor, dimana menyediakan layanan dan informasi yang dibutuhkan peserta didikdan terus melatih dan memanfaatkan kemampuan literasinya menjadi konten yang kaya dan bermanfaat bagi peserta didik.

Sementara itu peranan BK dalam flipped classroom adalah dalam pengembangan konten layanan maupun bagian dari supporting system dalam pembelajaran. Dalam peran ini ada beberapa peran yang harus diperhatikan guru BK, yaitu sebagai pelaksana implementasi pendekatan dalam setiap layanan, menjadi model dan memberi feedback yang dibutuhkan peserta didik, membantu peserta didik beradaptasi dan berkontribusi dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pendekatan yang dilakukan oleh guru mapel.

Dalam diskusi saran dan ide mengalir dari para peserta, terutama tentang apa yang harus dilakukan oleh para guru BK, Layanan BK seperti apa yang harus dihadirkan untuk membantu peserta didik menghadapi tidak hanya masa pandemic tapi juga beban tugas mereka selama menjalani LFH. Solusi yang ditawarkan juga adalah GCFH -Guidance and Counseling From Hearr, dengan hati, bukan hanya dari rumah. Caranya antara lain dengan memberikan layanan pada peserta didik tetap berfokus pada apa yang dibutuhkan peserta didik saat ini, yaitu tempat berkeluh kesah dan juga tempat menanyakan informasi seputar apa yang harus mereka lakukan dalam kondisi bencana ini. Caranya bisa dengan pengelolaan layanan bimbingan konseling kelas online, sekedar membuat grup chat, video conference, proyek2 art theraphy, pengukuran self report, membuat obrolan motivasi, konseling virtual  hingga parenting.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berikan Komentar Anda di Sini

Most Fav

Program pendidikan Guru Penggerak, Pendampingan individu Perdana

Pertama kali berkeliling, berkunjung dan bersilahturahmi langsung dengan para Calon Guru Penggerak dan kepala sekolah di sekolahnya masing-m...