Saat Motivasi Terdistraksi oleh Pandemi, Mari Segarkan dengan Rumah Belajar

 



Latar Belakang

Pembelajaran jarak jauh yang menjadi keharusan dilakukan di seluruh sekolah di seluruh pelosok dunia merupakan perubahan radikal yang melibatkan semua orang. UNESCO (2020) menyatakan bahwa sejak 25 Maret 2020 penutupan sekolah di banyak negara di seluruh penjuru sunia selama penyebaran covid-19 membuat 1.524.648.768 pelajar keluar dari proses belajar yang normal. Pendekatan alternatif dilakukan, seperti belajar online dari rumah dilakukan agar siswa tidak terhenti belajar. Pembelajaran online ini melibatkan siswa, orang tua/wali siswa, guru.

Mempertahankan motivasi menjadi tantangan yang meningkat bagi banyak orang yang tersandung melalui kehidupan yang dibatasi oleh pandemi virus corona. Goleman (dalam Brody, 2020) menjelaskan bahwa ada dua jenis motivasi, ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik mengacu pada tindakan yang dilakukan untuk menerima hadiah eksternal atau hasil seperti kekayaan, kekuasaan atau ketenaran, atau dalam beberapa kasus untuk menghindari hukuman. Sementara motivasi intrinsik melibatkan perilaku yang dilakukan demi mereka sendiri yang secara pribadi bermanfaat, seperti membantu orang lain, berpartisipasi dalam olahraga yang menyenangkan atau mempelajari subjek yang menarik. Dengan motivasi intrinsik, inspirasi berasal dari dalam diri seseorang. Ini cenderung lebih kuat dan hasilnya lebih memuaskan. Demikian juga dalam proses pembelajaran jarak jauh.

Pada kegiatan pembelajaran jarak jauh awalnya semua orang terlihat antusias, siswa termotivasi untuk belajar online dan merasa lebih menyenangkan, lebih santai, lebih bebas dengan anonimitas, lebih mudah dan lebih singkat. Namun saat berlangsung dimasa pandemic covid-19 semua kesan pada pembelajaran online yang menyenangkan justru berbalik. Muncullah perilaku menunda pekerjaan, kejemuan, kebosanan dan rasa ingin kembali ke masa-masa normal. (Hoffman, 2020). Hal ini dirasakan tidak hanya oleh siswa, namun juga para guru. Kebosanan, kejenuhan selama pembelajaran jarak jauh menyebabkan motivasi kerja menurun dan turut berimbas pada produktivitas mengajar. Terlepas dari apakah tugas mengajar diberikan secara synchronous (dilaksanakan real-time atau diwaktu tertentu) atau asynchorous (dapat dilakukan kapan saja) pembelajaran dipertanyakan tanpa adanya guru yang termotivasi dan siswa yang berkomitmen. (Hoffman, 2020).

Hambatan dan Kesulitan Selama BDR Berlangsung di Masa Pandemi

Kenyataan di lapangan produktivitas dan motivasi yang tinggi saling terkait. Kondisi  stress dapat meningkatkan energi dan meningkatkan fokus, dan juga lebih sering menyebabkan perasaan terganggu, lelah dan pusing. Hal ini membuat tujuan mengajar yang terlhat lebih mudah di awal, malah menjadi sulit diraih. Memahami ilmu motivasi dapat membantu kita untuk memelihara motivasi itu bukan hanya untuk “produktivitas kerja” namun untuk kesehatan mental dan kesejahteraan sehingga kita tetap bisa melewati hal-hal lain selama pandemic ini. (Walsh, 2020).

Bagian dilemma saat pandemic Covid-19 adalah keefektifan pembelajaran jarak jauh, yang sangat ambigu. Beberapa guru dan siswa berpikir pembelajaran jarak jauh hanya buang-buang waktu, dimana siswa yang tidak beruntung tidak memiliki akses gadget dan koneksi internet yang memadai. Meskipun penggunaan internet dan komputer mendorong pembelajaran singkat (Tanim dkk dalam Hoffman, 2020), instruksi online mengurangi transfer pengetahuan karena tidak adanya praktik yang dilakukan dalam konten pembelajaran. Siswa juga melaporkan kepuasan belajar yang rendah selama masa kegiatan Belajar Dari Rumah.

Pandemi COVID-19 telah membuat kehidupan terhenti di seluruh dunia, dengan hampir 178 negara melaporkan penutupan sekolah. Orang tua seperti kita memiliki kemewahan mengetahui anak-anak kita akan baik-baik saja ― sekolah dan guru mereka bekerja lembur sehingga anak-anak kita dapat belajar. Itu bukan kenyataan bagi banyak orang tua dan sistem sekolah. Jika ada, pandemi ini telah membawa ke fokus tajam betapa istimewanya beberapa siswa, dan bagaimana orang lain merasa tertinggal dan diabaikan. Ini juga telah menunjukkan kepada kita betapa pentingnya guru - dan bagaimana mereka dapat berhasil mengajar, bahkan selama krisis, dengan teknologi dan sistem pendukung yang tepat.

Sementara kebanyakan sistem sekolah dan guru mencoba untuk melibatkan siswa, para guru menghadapi setidaknya tiga hambatan serius (Beteile, 2020), antara lain:

1.      Stres karena ketidakpastian ekonomi, kepedulian untuk keselamatan orang yang dicintai, dan kecemasan tentang masa depan;

2.      Tantangan yang menakutkan untuk kembali ke sekolah di mana banyak siswa telah putus atau jauh tertinggal di belakang ― dan meningkatkan tekanan pada guru untuk memastikan mengejar ketinggalan dengan sedikit dukungan pengembangan profesional;

3.      Sedikit akses ke teknologi yang tepat atau keterampilan untuk menggunakannya.

Hambatan dan kesulitan yang terjadi selama BDR di masa pandemi covid-19 ini turut menyebabkan turunnya motivasi siswa belajar dan guru dalam melaksanakan tugasnya mengajar.

Hal yang Mempengaruhi Motivasi Siswa Dalam Belajar

Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita bahas dulu apa itu motivasi belajar. Motivasi belajar adalah segala usaha di dalam diri sendiri yang menimbulkan kegiatan belajar, dan menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar serta memberi arah pada kegiatan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual dan berperan dalam hal menumbuhkan semangat belajar untuk individu. (Winkel, 1996)

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013), faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar siswa adalah adalah sebagai berikut:

1)      Cita-cita atau Aspirasi Siswa; Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil. Keberhasilan mencapai keinginan dapat menumbuhkan kemauan belajar yang akan menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Cita cita dapat memperkuat motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

2)      Kemauan Siswa; Keinginana seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan untuk mencapainya, karena kemauan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

3)      Kondisi Siswa; Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani memengaruhi motivasi belajar.

4)      Kondisi lingkungan Siswa; Siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar, oleh karena itu kondisi lingkungan sekolah yang sehat, kerukunan, dan ketertiban pergaulan perlu di pertinggi mutunya agar semangat dan motivasi belajar siswa mudah diperkuat.

5)      Unsur-Unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran; Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup.

 

Di masa pandemic motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa hal  kebanyakan berasal dari hal di luar diri siswa (Nell, Hood, Graff, 2020) yaitu tidak adanya struktur pembelajaran yang jelas (47,8%), perubahan lingkungan belajar (50,7%), ketidakteraturan Guru dan Siswa (21,7%), hilangnya hubungan personal dalam belajar (36,2%), dan faktor lain (36,2 %).

Guru mengangkat isu jeleknya jaringan internet di beberapa daerah yang dapat mempengaruhi siswa mengakses alat-alat teknologi pembelajaran, yang dapat menyebabkan de-motivasi. Ada juga kekhawatiran apakah beberapa siswa dapat berkonsentrasi di rumah atau tidak terutama jika orang tua telah kehilangan pekerjaan mereka atau jika mereka diharapkan untuk menjaga adik-adik saat orang tua mereka sedang bekerja. (Gillis, 2020)

 

Hal yang Mempengaruhi Motivasi Guru Dalam Mengajar

Di sisi lain ada hal yang memengaruhi Motivasi Guru dalam mengajar. Dalam situasi normal ada beberapa hal-hal yang memengaruhi motivasi guru dalam bekerja. Rasheed dkk (2016) mengungkap motivasi guru dalam bekerja antara lain adalah:

1.      Kompensasi: paket kompensasi yang ditawarkan kepada guru perlu sesuai dengan kualifikasi, pengalaman kemampuan guru dan tingkat pasar, dll.

2.      Desain pekerjaan dan lingkungan kerja: pekerjaan guru perlu dirancang dengan benar. Beban kerja pada guru tidak boleh lebih tinggi dan membuat de-motivasi. Harus ada lingkungan belajar bagi guru dan harus berusaha maksimal untuk memperlakukan guru mereka dengan hormat dan tanpa diskriminasi.

3.      Sistem manajemen kinerja: manajer SDM dan administrator dalam hal ini Kepala sekolah dan tata usaha harus menerapkan sistem manajemen kinerja kontemporer untuk menilai prestasi dan prestasi staf pengajar mereka

4.      Pelatihan dan pengembangan: dalam lingkungan yang dinamis saat ini guru dunia pelatihan sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan untuk memberi mereka kepercayaan diri untuk bersaing di industri. Selain itu guru di pendidikan tinggi harus diberikan kesempatan maksimal pengembangan karir sehingga mereka dapat meningkatkan kualifikasi dan kemampuan mereka untuk tetap efektif untuk lembaga pendidikan.

Penelitian menunjukkan bahwa sekolah, sebagai sebuat organisasi kerja memengaruhi motivasi guru dan kualitas mengajar (Roeser dkk dalam Wentze dan Allan, 2009). Disaat yang bersamaan juga menunjukkan motivasi kerja di lingkungan pendidikan mempengaruhi keterikatan perilaku, pilihan perilaku dan prestasi para guru (Deci dkk dalam Wentzel dan Allan 2009). Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa motivasi kerja dipengaruhi oleh pemimpin dan kepemimpinan yang diterapkan dalam oraganisasi kerja (Leonard dkk, 2013)

Solusi Mengatasi Kesulitan Selama BDR berlangsung di Masa Pandemi

Ketiga hambatan utama stress, rasa takut tidak mempu mengajar dan terbatasnya akses teknologi pendukung pembelajaran bisa diselesaikan dengan menjalankan 3 solusi yang dapat menguatkan motivasi dan efektivitas guru mengajar selama dan setelah berlangsungnya pandemi juga sebagai pengembangan peluang di masa jangka panjang (Betelle, 2020). Solusi itu antara lain:

1.      Mendukung Resiliensi guru; ssitem sekolah harus melindungi pekerjaan guru dan penghasilan nya sehingga mereka tetap termotivasi mengajar dan bersiap diri kapanpun sekolah kembali dibuka kembali. Menumbuhkan motivasi instrinsik dan meminimalisir “burn out” juga penting, untuk mendukung wellbeing guru dalam situasi darurat atau tidak.

2.      Dukungan Guru Secara Instruksional; Guru harus diberikan kelengkapan untuk menilai siswa setelah mereka kembali ke sekolah sehingga mereka dapat mengidentifikasi konten dan keterampilan kunci apa yang telah hilang dan perlu dibangun kembali - serta mendeteksi tanda-tanda peringatan putus sekolah. Guru juga akan membutuhkan dukungan pengembangan profesional untuk melakukan pendidikan perbaikan yang efektif. Instruksi diurutkan dengan benar, disampaikan dengan pedagogi yang sesuai untuk ini, guru akan membutuhkan dukungan untuk menguasai kemampuan mereka untuk memberikan pengajaran kelas yang berkualitas tinggi.

3.      Dukungan Teknologi bagi Guru; Negara dan sistem sekolah yang telah mengatasi COVID-19 dengan lebih berhasil juga memastikan guru mereka memiliki akses ke teknologi. Misalnya, guru disediakan kartu SIM gratis untuk mengakses materi pendidikan online dan WhatsApp. Tapi itu bukan hanya tentang menyediakan teknologi; guru juga harus tahu bagaimana menggunakan teknologi secara efektif misalnya dengan melatih guru untuk merekam dan mengunggah dokumen dan mengadakan kelas virtual secara efektif. Tidak semua guru akan mendekati teknologi dengan cara yang sama. Mereka perlu didukung dengan beragam strategi. Seiring dengan sistem sekolah, teknologi harus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran mengajar serta kebutuhan rutin, seperti sistem SDM.

 

Cara Mempertahankan Motivasi Belajar-Mengajar Selama BDR

Beberapa rekomendasi dirancang untuk mendukung motivasi belajar-mengajar tetap bertahan baik selama pembelajaran jarak jauh berlangsung, khususnya mendukung saat pandemic covid-19 (Hoffman, 2020) antara lain yaitu:

1.      Kenali harapan yang ada

Orang tua, guru dan siswa punya harapan tertentu. Sebagian besar berharap bahwa pendidikan di sekolah menjadi bagian penting dan harus menantang dan bermanfaat. Sebagian lain berharap pembelajaran harus mudah. Ini dikarenakan pandangan tentang pembelajaran jarak jauh itu sendiri yang beragam. Tidak adanya pengalaman belajar online sebelumnya menimbulkan kecemasan, mengarahkan pada meragukan kemampuan dan fokus akan bagaimana menjadi guru yang efektif.

Keraguan guru ini bisa menyebabkan perilaku menarik diri dan resistensi dari siswa. Salah satu solusi untuk menjaga motivasi adalah tidak menghilangkan hubungan personal yang sudah ada antara guru dan siswa.menciptakan replica rutinitas kelas bisa dilakukan dalam PJJ dengan mengadaptasi dan memodifikasi perasaan dan pengalaman personal yang sama.

2.      Mengevaluasi design pembelajaran

Design pemeblajaran dapat secara luas mempengaruhi motivasi. Keluhan dari siswa selama pembelajaran online membuat design pembelajaran lebih dipermudah. Petunjuk pembelajaran online terus dievaluasi dan diperbaiki. Langkah spesifik diambil untuk menghindari diskusi bahan ajar yang berulang, namun lebih diarahan kepada menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti berpikir kreatif. Penilaian bisa dilakukan berdasarkan proyek, terutama yang melibatkan sumberdaya yang ada dirumah dan pengetahuan tentang kejadian yang sedang berlangsung. Hindari fokus untuk harus membuat pelajaran yang menyenangkan, dan hindari memberikan game ataau bahasan yang tidak terkait dengan tujuan pembelajaran.

3.      Menghilangkan Kesalahpahaman Tujuan

Banyak pelajar pandemi tidak memiliki kesiapan psikologis untuk instruksi online. Mereka mungkin menyimpan kesalahpahaman mengenai tujuan belajar dan percaya ada sedikit kebutuhan untuk menunjukkan penguasaan kursus. Mengingat transisi singkat dari instruksi tradisional ke pembelajaran online, persiapan awal yang tidak mungki dilakukan. Persiapan minimal dapat menyebabkan kurangnya pemikiran kritis, pemrosesan informasi terbatas, dan retensi yang buruk karena pelajar menganggap pembelajaran online lebih mudah atau tidak berguna. Demikian pula, guru dan siswa dapat mendekati instruksi sebagai persyaratan administratif yang diamanatkan yang tidak selalu peduli tentang pencapaian. Guru dan orang tua hendaknya menekankan kepada siswa bahwa instruksi online diperlukan dan bukan pengganti hanya untuk membuat siswa sibuk sampai krisis mereda. Ketika pelajar melihat instruksi untuk menjadi berharga dan relevan motivasi akademik mereka akan meningkat, mengalihkan fokus untuk konsekuensi emosional COVID-19 dan mempromosikan investasi yang lebih pribadi dalam pembelajaran dan prestasi

4.      Mengoptimalkan efektivitas

Setelah guru meyakinkan pelajar bahwa instruksi online adalah bisnis yang serius dan bukan pengganti hukum yang lebih rendah untuk pembelajaran kelas, pendidik dapat menggunakan prinsip-prinsip desain khusus yang ditemukan untuk meningkatkan keterlibatan dan ketekunan. Tujuan pembelajaran khusus dan tujuan pembelajaran harus dinyatakan secara eksplisit. Pembelajaran harus mencakup petunjuk seperti "pada saat Anda menyelesaikan unit ini Anda akan dapat ..." atau "konten ini relevan karena ..."

Kedua, desain harus mencakup arah tujuan belajar yang jelas untuk menanamkan kepercayaan belajar dalam kemampuan untuk menavigasi lingkungan online. Siswa harus percaya bahwa mereka memenuhi syarat untuk menguasai pembelajaran online meskipun kurangnya keakraban dengan sistem pembelajaran online.

Ketiga, persepsi siswa tentang relevansi dapat dijaga saat konten kursus dan penilaian online sangat berkorelasi. Pelajar harus dapat meninjau materi yang direkam, mengakses konten secara asinkron, mempelajari contoh yang bekerja, dan mengambil rangkuman yang diperlukan untuk elaborasi atau klarifikasi. Orang tua harus berusaha untuk meyakinkan anak-anak mereka bahwa pembelajaran online dapat menjadi proses yang menyenangkan dan informative.

5.      Kehadiran dan keterlibatan guru

Kehadiran guru sangat penting untuk memotivasi pelajar online, terlepas dari sinkronisitas instruksional. Keterlibatan guru aktif menunjukkan kepada pelajar bahwa guru termotivasi untuk melakukan PJJ. Mem-posting materi ajar dengan teratur, memberikan umpan balik, dan menunjukkan empati pada siswa sangat penting (Shea et al., 2006 dalam Hoffman 2020). Terakhir, perlu diingat bahwa pandemi menumbuhkan perasaan isolasi dan konsekuensi emosional pemisahan harus ditangani dan secara eksplisit dinyatakan sebagai bagian normal dari transisi online (Lewis & Abdul-Hamid, 2006 dalam Hoffman 2020). Interaksi guru dan siswa melalui umpan balik yang ditargetkan yang berfokus pada hubungan interpersonal diperlukan untuk partisipasi pembelajaran yang konsisten dan keterlibatan terus-menerus sepanjang pandemi.

 

Sementara Keller (dalam Gillis2020) mengatakan pada saat pandemic ini, ketidakpastian dan gangguan kemampuan untuk fokus pada pekerjaan sekolah bisa sulit. Salah satu pendekatan berharga yang dapat diambil orang tua dan guru adalah memanfaatkan teori ARCS. Keller menyuusun teori ARCS tentang desain motivasi yang berbicara tentang instruksi empat bidang berbeda yang dapat kita terapkan dalam memotivasi siswa.

1.      Attention-Perhatian: Untuk memotivasi siswa harus merangsang dan mendukung rasa ingin tahu.

2.      Relevance-Relevansi: Relevansi pelajaran saat ini, atau kursus terhadap nilai-nilai pribadi siswa atau bagaimana hal itu membantu mereka mencapai tujuan yang diinginkan harus ditampilkan

3.      Confidence-Kepercayaan diri: siswa harus percaya bahwa mereka akan dapat berhasil

4.      Satisfaction-Kepuasan: Membuat siswa merasa baik tentang prestasi mereka dan menjadi jelas pada tujuan dari awal.

 

Kita mungkin semua merasa kita melakukan ini sudah sampai batas tertentu tetapi memiliki kerangka kerja untuk bekerja untuk benar-benar dapat mendukung upaya guru dan orang tua. Guru harus melihat pelajaran yang diampunya dan mengidentifikasi di mana peluang muncul untuk menyertakan unsur-unsur ARCS. Model ini dapat diterapkan pada pengembangan pembelajaran dan untuk mendukung pesan atau dukungan yang dapat dilakukan menggunakan teknologi dan memungkinkan untuk dipersonalisasi.

 

Segarkan Motivasi Belajar-Mengajar dengan Rumah Belajar

        Setelah kita sama-sama membaca dan mencermati mulai dari latar belakang munculnya program BDR karena pandemic Covid-19. Kita juga melihat factor yang mempengaruhi motivasi mengajar guru dan motivasi belajar siswa yang dikemukakan melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli sebelumnya, juga menyimak solusi untuk menjaga motivasi dari para ahli yang sudah dipaparkan diatas. Lalu saya  menganalisa adanya benang merah yang tebal yang menghubungkan portal Rumah Belajar sebagai solusi yang dapat menyegarkan motivasi belajar siswa maupun motivai mengajar guru. Bagaimana maksudnya? Kok bisa? Mari simak sedikit lagi artikel ini.

        Di bagian sebelumnya saya sudah memaparkan bahwa saat ini guru membutuhkan panduan yang jelas dalam menjalankan kurikulum yang ada, membutuhkan bantuan penguasaan Teknologi dan sumber bahan ajar digital yang mendukungnya dalam belajar. Nah disinilah peran Portal Rumah Belajar. Di portal ini Guru dapat membuat Kelas Digital, dapat mengakses sumber belajar berbentuk video pembelajaran, audio di Radio edukasi, memperoleh kumpulan soal evaluasi belajar yang dibutuhkan dalam Bank Soal, sampai mengikuti pelatihan pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang dia butuhkan. Semuanya tersedia dalam satu portal, di Rumah Belajar. Fitur-fitur tambahan sepertiKarya Guru,Karya komunitas dan KArya Bahasa dan Sastra juga bisa diaakses sesuai kebutuhan dan minat. Ada juga wadah Pena Rumah Belajar yang berisikan curhatan praktik baik pembelajaran  yang sudah dilakukan guru senusantara yang bisa menjadi bahan inspirasi bagi para guru untuk dipraktikkan dalam pembelajarannya.

        Sementara bagi siswa, mereka membutuhkan bahan ajar digital yang lengkap, variatif, yang bisa disesuaikan sendiri dengan gaya belajar, kapasitas dan keunikan individu mereka masing-masing, dan mereka bisa dibantu dengan Sumber Belajar, Laboratorium maya, Buku Sekolah Elektronik, Peta Budaya, hingga Wahana Jelajah Angkasa. Memilih cara belajar sesuai kebutuhan bisa melalui kelas digital yang dikelola oleh gurunya. Hingga mampu melakukan evaluasi mandiri dengan bekal bahan dari Bank Soal. Bahkan Radio edukasi, TV edukasi, memperkaya bahan ajar yang bisa diakses dan menambah variasi.

     Sekarang masih ragukah kita untuk memanfaatkan portal Rumah Belajar ini? Masih terdistraksikah Motivasi kita saat pandmei ini terlihat tidak berujun saat ini? Yuk mari segarkan motivasi diri dengan memanfaatkan Portal Rumah Belajar sekarang juga!

 

DAFTAR PUSTAKA

Beteille, Tara (2020), Supporting teachers during the COVID-19 (coronavirus) pandemic, World Bank Blogs diakses melalui https://blogs.worldbank.org/education /supporting-teachers-during-covid-19-coronavirus-pandemic tanggal 28 Agustus 2020.

Brody, jane (2020) How to maintain Motivation in a Pandemic, The new York times, diakses melalui https://www.nytimes.com/2020/05/18/well/mind/motivation-pandemic-coronavirus.html diakses tanggal 28 Agustus 2020.

Dimyati;  Mudjiono. (2013). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Gillis, Peter (2020) Motivating Students — And Teachers – While Distance Learning During The Covid-19 Pandemic, Learnovate, diakses melalui https://www.learnovatecentre.org/motivating-students-and-teachers/  tanggal 28 Agustus 2020.

Hoffman, Bobby, (2020) Enhancing Motivation for Online Learning During Covid-19, Psychology Today, Diakses melalui https://www.psychologytoday.com /intl/blog/motivate/202005/enhancing-motivation-online-learning-during-covid-19 tanggal 28 Agustus 2020.

Leonard, H Skipton; Lewis, Rachel; Freedman, Arthur M, Passmore, Jonathan (2013) The Wiley-Blackwell Handbook of the Psychology of Leadership, Change, and Organizational Development, Wess Sussex UK, John Wiley & Sons, Ltd.

Nell, Anna; Hood, Miles; Graff, Haylee (2020), Student Motivation During COVID_19 Pandemic, University of Colorado Boulder, diakses melalui https://www.colorado.edu/artssciences-advising/2020/04/21/student-motivation-during-covid-19-pandemic tanggal 28 Agustus 2020.

Rasheed, Muhammad Imran; Humayon, Asad Afzal; Awan, Usama; Ahmed, Affan ud Din (2016), Factors affecting teachers’ motivation An HRM Challenge for public sector higher educational institutions of Pakistan (HEIs), International Journal of Educational Management, Vol.30, No. 1, 2016. Pp 101-114. Emerald Group Publishing limited. DOI 10.1108/IJEM-04-2014-0057.

UNESCO (2020), Guidance on Active Learning at Home during Educational Disruption, Promoting setudent’s Self regulation Skills in Covid-19 Outbreaks, Smart Learning Institute of Beijing Normal University (SLIBNU), China.

Walsh, Erin (2020) Motivation during a Pandemic, Spark & Stitch Institute, diakses melalui https://sparkandstitchinstitute.com/motivation-during-a-pandemic/ tanggal 28 Agustus 2020.

Wentzel, Kathryn R, Wigfiel, Allan (2009) Handbook of School Motivation, New York, Routledge Taylor and Francis.

W.S. Winkel. (1996). Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo.


 

1 komentar:

Silahkan Berikan Komentar Anda di Sini

Most Fav

Program pendidikan Guru Penggerak, Pendampingan individu Perdana

Pertama kali berkeliling, berkunjung dan bersilahturahmi langsung dengan para Calon Guru Penggerak dan kepala sekolah di sekolahnya masing-m...