Guru BK Belajar SESI 1-2
Tema Learning From Heart dan Work From Heart dilemparkan ke forum,
dengan Narasumber perdana Nurjanni Astiyanti, Lidya Ardiyan sebagai moderator dan
Host Nurmalahayati. Alhamdulillah cukup ramai, partisipan berebut masuk room,
dan beberapa terlempar keluar dikarenakan hilangnya sinyal. Antusiasme seluruh
partisipan terlihat nyata, mulai dari guru BK SMP, SMA, SMK, MTs dan MA hingga
Widyaiswara bergabung dalam diskusi. Walau Room
hanya menampung sekitar delapan puluhan peserta semuanya turut menyambut baik
dan ide-ide tersampaikan disana. Ternyata idak hanya peserta didik yang bingung
menghadapi Learning From Home, kesiapan fasilitas dan penguasaan teknologi yang
tidak merata menjadi kendala utama. Dikarenakan kesalahan teknis sinyal dan
jaringan, narasumber dan host tidak bisa bergabung kembali ke room diskusi.
Sehingga diskusi dilanjutkan 2 hari kemudian di sesi 2 dengan melanjutkan tema
yang sama. Nurjanni menyampaikan tiga pokok bahasan utama mulai dari alasan
munculnya belajar di rumah, berkembangnya teori dan pengalaman belajar, dan
munculnya peran baru dari Guru BK. Pertama bahasan belajar di rumah, pandemic
covid-19 menyebabkan banyak negara melakukan isolasi dalam skala besar,
menghasilkan gerakan belajar di rumah, dengaan mengandalkan guru sebagai
fasilitator daring dan orang tua sebagai pengawas kegiatan. Bukannya
mengentaskan masalah, justru hal ini menimbulkan masalah baru, yang hadir
melalui 3 keluhan utama, berlaku untuk semua kalangan, ketidaksiapan para guru
melaksanakan pembelajaran daring, kepuasan belajar dan mengajar langsung yang
tidak terpenuhi.
Keluhan
pertama, berlakunya untuk semua kalangan, anak dari keluarga sosial ekonomi
tinggi dan rendah, sekolah negeri sampai swasta elit, semuanya tanpa terkecuali.
Padahal ada kalangan tertentu khususnya menengah kebawah yang bahkan sama
sekali tidak memiliki fasilitas tersebut, bahkan mungkin tidak pernah menyentuh
gadget sama sekali. Keadaan ini memastikan tidak semua kalangan bisa
melaksanakan pembelajaran daring dirumah ini. Keluhan kedua ketidaksiapan guru
melaksanakan pembelajaran daring, keterampilan guru yang beragam dan tidak
merata di seluruh pelosok negeri, mirip dengan keadaan peserta didiknya. Belum
lagi setiap orang menghadapi kepanikan dan kecemasan menghadapi pandemic ini.
Keluhan ketiga, sebenarnya kombinasi dari keluhan pertama dan kedua, ketidak
siapan peserta didik dan guru menyebabkan efektivitas pembelajaran online
dipertanyakan. Terbiasa dan menguasai pembelajaran tatap muka dan kenyamanan
pembelajaran tatap muka yang mempunyai nilai tersendiri dihati guru maupun peserta
didik. Kombinasi pengalaman pengetahuan dan motivasi yang biasanya mengalir
saat ini tersendat karena kesiapan, baik kesiapan secara mental psikologis
maupun secara fasilitas.
Kelas-kelas
online memang sudah tumbuh pesat di decade terakhir, menjadi solusi alternative
pendidikan bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan jarak dan waktu.
Kesalahan dalam pemahaman konsep belajar daring juga berkembang. Pertama slow cooker, dimana guru/instruktur
mempersiapkan banyak hal sebelum pembelajaran, kemudian hanya sebagai pemandu
instruksi, dan peserta didik berjuang memahami dan menguasai materi dan
mengerjakan semua tugas yang diberikan. Faktanya seharusnya belajar daring
kedua pihak guru dan peserta didik merancang dan mengembangkan kelas dengan
aktif. Kedua murid online malas, karena keterlibatan minimal dalam kelas,
cendrung sebagai silent observer, dan kondisi belajar yang tidak menarik, guru
sebagai fasilitator juga tidak menguasai sepenuhnya, kendala teknik seperti
penguasaan gadget, aplikasi dan kekuatan jaringan, dan pekerjaan sampingan para
peserta didik. Faktanya pembelaran daring menuntut keterampilan yang lebih,
kemampuan mengelola waktu, memotivasi diri dan tentunya harus memiliki self
regulation yang baik. Kemampuan guru juga harus maksimal agar bisa mendukung
peserta didik belajar mendalami materi dan mentransformasi pengalaman. Ketiga
belajar online tidak bermanfaat, survey Educause menunjukkan bahwa responden
menilai pembelajaran daring tidak cukup efektif, dan memuaskan. Faktanya,
banyak pembelajaran daring yang berkualitas jika didukung semua fasilitas dan
guru yang juga berkualitas, mendorong peserta didik untuk mengembangkan
pengetahuan secara dinamis, sehingga dapat efektif dan memuaskan.
Prinsip
yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran daring antara lain harus selalu
stand by di kelas, memiliki teaching persona yang unik yang terlihat dalam
konten tertulis, mampu berempati dengan beragam keadaan peserta didik, mampu
menyajikan bahan pembelajaran yang
memantik ketertarikan secara visual, menyampaikan harapannya pada peserta didik,
menyediakan semua fasilitas untuk mendorong pembelajaran, menjadikan kelas
sebagai tempat yang nyaman dan mendukung introspeksi diri dan umpan balik, dan
komitmen guru untuk terus melakukan pengembangan berkelanjutan.
Sekolah
jaman sekarang yang harus membalik paradigm belajar, dengan flipped classroom. Peserta didik
memperoleh first exposure materi baru
diluar kelas, dengan terlebih dahulu membaca dan menyimak bahan ajar berupa
buku atau video materi, kegiatan ini memancing anak sudah berbekal keterampilan
berpikir C1 dan C2. Kemudian berlanjut dengan tatap muka di kelas, disaat ini peserta
didik mengerjakan tugas yang lebih berat, mengasimilasi pengetahuannya melalui
problem solving, diskusi bahkan berdebat dengan peserta didik lain, ini
mengembangkan keterampilan berpikir C3 hingga C6. Dukungan teman sebaya dan
guru selama proses dikelas harus bisa mendorong kemampuan berpikir tingkat
tinggi secara kolaboratif dan kooperatif. Dengan demikian elemen kunci dalam flipped classroom ini adalah peserta
didik harus melakukan first exposure sebelum
dia masuk ke dalam kelas, kemudian didalam kelas kemampuan berfikir tingkat
tinggi yang dominan berlangsung dan guru harus segera memberi feedback sebagai insentif/reward bagi peserta
didik.
Bagian
akhir adalah tentang peranan guru BK saat ini, yaitu sebagai bagian support
system disekolah. Tujuan layanan BK disekolah tidak lepas dari pemenuhan
kebutuhan fisiologis dasar peserta didik, kemudian mendorong peserta didik
untuk memahami diri dan membangun asosiasi dengan sebaya, menjaga keseimbangan
kekuasaan dalam setting sekolah, mendorong peserta didik dalam pencapaian
kesuksesan dan menyediakan kesempatan untuk dapat meraih independensi diri
(Heyden, 2011). Dan dalam proses pembelajaran daring BK juga menghadapi beberapa fakta lapangan.
Dalam hal efektivitas layanan BK daring faktanya adalah, pertama hasil riset
menunjukkan efektivitas konseling daring sama dengan konseling di ruangan BK
(tatap muka langsung), kedua konseli dalam hal ini peserta didik akan
menghubungi konselor atau Guru BK sesuai kebutuhan mereka. Dalam hal relasi
terapeutik, fakta pertama layanan BK daring hanya cocok untuk orang dan topik
tertentu, tidak bisa digeneralisir untuk semua, dan tetap berlakunya law of attraction. Dalam hal privasi
konseli, fakta menunjukkan bahwa profesionalisme berlaku penuh sebagaimana saat
tatap muka, dan konseli sebagian besar merasa lebih terlindungi dan tidak
terlalu dipantau. Dalam hal pilihan layanan dan konselor juga da dua fata
menarik dimana konseli dapat memperkaya diri dengan berbagailayanan yang
disajikan konselor atau guru BK jika mau
membaca panduan yang ada, dan keterampilan konselor juga bisa semakin
dikembangkan.
Penjabaran
berbagai fakta tersebut menunjukkan peran guru BK dalam pembelajaran daring
antara lain dalam refleksi dan evaluasi bagi peserta didik dan orang tua
sebagai pengguna jasa, menuntut keterlibatan aktif orang tua guru BK dan peserta
didik dalam pendampingan, pemberian motivasi dan konsultasi; dan sebagai
contect constructor, dimana menyediakan layanan dan informasi yang dibutuhkan peserta
didikdan terus melatih dan memanfaatkan kemampuan literasinya menjadi konten
yang kaya dan bermanfaat bagi peserta didik.
Sementara
itu peranan BK dalam flipped classroom adalah dalam pengembangan konten layanan
maupun bagian dari supporting system dalam pembelajaran. Dalam peran ini ada
beberapa peran yang harus diperhatikan guru BK, yaitu sebagai pelaksana
implementasi pendekatan dalam setiap layanan, menjadi model dan memberi
feedback yang dibutuhkan peserta didik, membantu peserta didik beradaptasi dan
berkontribusi dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pendekatan yang
dilakukan oleh guru mapel.
Dalam
diskusi saran dan ide mengalir dari para peserta, terutama tentang apa yang
harus dilakukan oleh para guru BK, Layanan BK seperti apa yang harus dihadirkan
untuk membantu peserta didik menghadapi tidak hanya masa pandemic tapi juga
beban tugas mereka selama menjalani LFH. Solusi yang ditawarkan juga adalah GCFH
-Guidance and Counseling From Hearr, dengan
hati, bukan hanya dari rumah. Caranya antara lain dengan memberikan layanan
pada peserta didik tetap berfokus pada apa yang dibutuhkan peserta didik saat
ini, yaitu tempat berkeluh kesah dan juga tempat menanyakan informasi seputar
apa yang harus mereka lakukan dalam kondisi bencana ini. Caranya bisa dengan
pengelolaan layanan bimbingan konseling kelas online, sekedar membuat grup
chat, video conference, proyek2 art theraphy, pengukuran self report, membuat obrolan motivasi,
konseling virtual hingga parenting.
